Monday, February 22, 2010

MENGUCAP SYUKUR KPD ALLAH

May 2008

Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. (1 Tesalonika 5:18)

BersyukurlahSudah sering kita mendengar nasihat Firman Tuhan, entah lewat kotbah-kotbah atau tulisan-tulisan tentang mengucap syukur baik susah maupun senang bahkan dalam segala hal. Bahkan mungkin kita telah bosan dengan nasihat tersebut karena seringnya disampaikan. Namun demikian sesungguhnya ada berapa banyak umat Allah yang benar-benar mengucapkan syukur kepada Allah?

Tidak mudah mengucap syukur pada saat susah, pada saat keadaan tidak baik, saat masalah berat menghimpit. Beberapa mungkin berusaha mengucap syukur, tetapi diantaranya juga hanya sebatas kata-kata saja. Saat kelimpahan, saat keadaan sangat baik, juga bukan berarti mudah mengucap syukur, banyak diantaranya melupakan Tuhan dan malah meninggalkan ibadah dan persekutuan. Memang tidak mudah mengucap syukur, karena itu Firman Tuhan menulis “mengucap syukurlah”.

Allah itu baik

Haleluya! Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
(Mazmur 106:1)

Alkitab mengajarkan kita mengucap syukur atas kebaikan Allah kita, atas segala kemurahan dan rahmatNya. Karena kasih setiaNya yang besar maka kita mengucap syukur.

Sebenarnya dalam keadaan apapun juga, pada saat kita menerima kelimpahan dari Allah, atau saat kita dihadapkan kepada kesukaranpun kita patut bersyukur, sebab Firman Tuhan dalam Yakobus 1:17, berkata “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” Segala yang diberikan oleh Allah sebenarnya adalah pemberian yang baik. Karena itulah kita patut mengucap syukur kepadaNya.

Kita sebagai anak-anakNya, Matius 10:29-31 mengatakan bahwa Allah memperhatikan kita dan memeliharakan kita, bahkan rambut dikepalapun dihitungNya dan tidak ada satupun yang gugur tanpa seijin dan sepengetahuan Allah. Apapun juga yang kita hadapi, sebagai anakNya pastilah itu adalah pemberian dan anugrah yang baik dan sempurna.

Persoalan yang sering kita hadapi sebenarnya adalah kesulitan untuk melihat bahwa segala pemberian dan anugrah dari Allah itu adalah baik. Pada saat rasul Paulus dan Silas dipenjara karena injil, mereka dapat mengucap syukur dan menaikan puji-pujian kepada Allah didalam penjara dalam keadaan terpasung (Kisah Rasul 16:24-28). Apa yang dilihat oleh Rasul Paulus atas kemalangan yang ditimpanya sebagai sesuatu yang baik? Saat Ayub kehilangan seluruh harta dan anak-anaknya, bahkan sekujur tubuhnya penuh dengan borok, tetapi ia tetap memuji kebesaran Allah (Ayub 1:20-22). Apa yang dilihat oleh Ayub, sehingga ia dapat bersyukur? Raja Daud saat ia dikejar-kejar Raja Saul hendak dibunuh dan terjebak didalam gua, ia malah bermazmur dan bersyukur kepada Allah (Mazmur 57:1,8-12). Apa yang dilihat oleh Raja Daud? Bukankah kematian sudah didepan matanya? Tetapi Daud menganggap Allah itu baik.

Mereka bukan bersyukur atas kemalangan yang menimpa mereka, tetapi bersyukur atas apa yang baik yang diberikan oleh Allah kepada mereka. Mereka melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh manusia, mereka melihat kebaikan Allah dan kebesaran Allah dalam hidup mereka. Raja Daud pernah kesulitan melihat dan dengan mata dagingnya, ia melihat kemalangannya sebagai kemalangan manusia bukan sebagai pemberian dan anugrah yang baik dari Allah.

Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir.
Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik.
Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain.
Sebab itu mereka berkalungkan kecongkakan dan berpakaian kekerasan.
Karena kegemukan, kesalahan mereka menyolok, hati mereka meluap-luap dengan sangkaan.
Mereka menyindir dan mengata-ngatai dengan jahatnya, hal pemerasan dibicarakan mereka dengan tinggi hati.
Mereka membuka mulut melawan langit, dan lidah mereka membual di bumi.
Sebab itu orang-orang berbalik kepada mereka, mendapatkan mereka seperti air yang berlimpah-limpah.
Dan mereka berkata: “Bagaimana Allah tahu hal itu, adakah pengetahuan pada Yang Mahatinggi?”
Sesungguhnya, itulah orang-orang fasik: mereka menambah harta benda dan senang selamanya!
Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah.
Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi.
Mazmur 73:2-14

Demikian Daud mengeluh atas kemalangannya. Mengeluh karena semakin ia mengasihi Allah dan berusaha hidup berkenan kepadaNya, malah ia seperti kena hukum setiap pagi. Kesukaran bukannya bertambah hilang, melainkan semakin berat dengan adanya hukum-hukum Allah. Orang lain dapat berdusta, dapat membual, dapat membalas sampai puas, dapat melakukan segala perbuatan yang direncanakan dihatinya, tetapi Daud, anda dan saya, memiliki Firman Allah yang membatasi hidup kita. Bahkan oleh karenaNya, kita mendapatkan kesukaran, persoalan dan alternatif jalan keluar persoalan kita semakin terbatas.

Sering kali kita mengeluh kepada Tuhan. Saat hajaran datang, saat ujian menghampiri, saat kita ditimpa kemalangan. Kita mengenadah keatas, bukan untuk bersyukur kepada Allah, tetapi untuk protes kepada Allah. Bagaimana kita dapat melihat semua itu baik dan mengucap syukur kepada Allah?

Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku,
sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka.
Mazmur 73:16-17

Selanjutnya, Mazmur menuliskan bahwa saat masuk dalam hadirat Tuhan, kita akan melihat seperti Daud melihat, seperti Ayub melihat, seperti Paulus melihat. Didalam hadirat Tuhan, maka mata dan hati kita akan dicelikan dan kita akan dapat melihat kebaikan Tuhan dan kita dapat bersyukur. Bersyukur yang bukan dibibir ini saja, tetapi dari dalam hati, dari hati yang tulus dan jujur. Semua itu dimulai dari dalam hadirat Tuhan.

Mengucap syukur yang benar-benar dari dalam hati dan didalam kebenaran adalah saat kita masuk dalam hadirat Tuhan, saat kita mendekat kepadaNya, saat kita bertekuklutut dihadapanNya. Pada saat itu maka kasih Allah akan dicurahkan dalam hati kita dengan limpahnya dan kita dapat melihat dengan mata yang terbuka seperti Daud dan Paulus.

Tetapi jika kita tidak pernah menghadap hadirat Allah, maka ucapan syukur kita bukan benar-benar dari hati, tetapi keluar dari pikiran dan mulut saja. Karena tidak bersungut-sunggut itu bukan berarti mengucap syukur. Mengucap syukur itu bukan otomatis menjadi kebalikan bersungut-sunggut sehingga jika kita tidak bersungut-sungut itu berarti mengucap syukur. Saat kita tidak bersungut-sungut, kita menunjukan sikap menerima, sedangkan untuk dapat bersyukur, harus keluar dari dalam hati nurani yang murni, bukan sekedar keluar kata-kata di bibir.

Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. (2 Timotius 1:3a)

Bagaimana dengan kita saat ini, sulitkah kita mengucap syukur? Atau selama ini kita paksakan keluar dibibir kita? Datanglah dihadapan hadirat Allah, bertututlah berdoa dan biarkanlah Roh Allah membuat anda merasakan betapa baiknya Allah itu, jauh lebih baik dari yang anda bayangkan, bahkan dengan segala kondisi yang menghimpit kita atau mengancam kita. Rencana Allah itu indah (Yeremia 29:11), dan Ia ingin kita tinggal didalamnya (Efesus 2:10), bukan sebagai seorang yang tidak berguna dan egois didunia yang membutuhkan terang dari Allah (Kisah Rasul 13:46-47), tetapi Ia ingin kita hidup membawa terang walau ditengah kegelapan. Karena untuk itulah kita ada didunia ini.

Mari kita mulai hari ini, berlutut dihadariatNya agar kita benar-benar dapat mengucap syukur kepadaNya atas segala hal.

No comments:

Post a Comment